Cara Menanam Cabe

Sebagai komoditas yang keberadaannya cukup penting di Indonesia, cabai kini menjadi tanaman yang diminati banyak orang untuk dibudidayakan baik itu di rumah maupun di kebun.

Terlebih lagi, harga cabai yang semakin tinggi juga membuat banyak orang semakin tertarik untuk menanam cabai.

Namun, ketika saya mencari cara menanam cabai di internet, kebanyakan hasilnya adalah artikel-artikel tentang “cara cepat menanam cabai”, atau “cara menanam cabai paling mudah”, dan seterusnya.

Apa benar menanam cabai itu bisa cepat dan mudah?

…karena seperti yang kita tahu, sesuatu yang prosesnya mudah dan cepat biasanya tidak akan memberi hasil yang memuaskan.

Namun pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Karena memang cara menanam cabai itu sebenarnya mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja…

Akan tetapi, tidak semua orang dapat memperoleh hasil yang maksimal.

Apalagi jika kita tidak menerapkan kaidah-kaidah menanam cabai dengan baik.

Kemungkinan besar hasilnya akan minim, atau kemungkinan terburuknya lagi, tanaman cabai kita bisa terkena penyakit tanaman bahkan hingga gagal panen.

Tentu kita tidak ingin hal itu terjadi.

Maka dari itu, pada artikel ini, saya akan membuat sebuah panduan lengkap menanam cabai agar mendapatkan hasil yang melimpah.

Mulai dari menanam benih sampai panen.

Dalam panduan ini, saya akan membagi proses penanaman cabai menjadi beberapa tahap, yaitu:

Atau silakan lanjut scroll ke bawah jika Anda ingin membaca panduan ini secara berurutan. Mari kita mulai dari mengenal karakteristik tanaman cabai.


Persyaratan tumbuh cabai

Sebelum kita memulai menanam cabai, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu karakteristik tanaman cabai.

1. Iklim

  • Iklim yang optimal untuk tanaman cabai dapat tumbuh dengan baik adalah:
  • Suhu 25 hingga 27 °C pada siang hari dan 18 hingga 20 °C pada malam hari.
  • Kelembapan udara 50 hingga 70%
  • Curah hujan 600 hingga 1200 mm per tahun
  • Cahaya matahari yang cukup (di bawah 70%)
  • Tipe iklim D3 atau E3, yaitu lima bulan basah dan empat sampai enam bulan kering.

2. Tanah

  • Tanah dengan pH 5,5-6,8
  • Jenis tanah mediteran dan aluvial

3. Ketinggian

Cabai dapat tumbuh optimal pada ketinggian yang cukup fleksibel, yaitu antara 1 hingga 1.500 mdpl.


Memilih benih cabai

cara memilih benih cabe

Hal pertama yang harus dipersiapkan sebelum menanam cabai adalah memilih benih dan varietas cabainya.

Anda dapat memilih untuk menggunakan benih cabai OP atau hibrida.

Benih OP (Open Pollinate) adalah jenis benih lokal dengan kualitas baik dan memiliki beberapa keuntungan, sedangkan benih hibrida adalah benih hasil persilangan antar dua varietas unggul sehingga menghasilkan benih yang unggul pula.

Akan tetapi, jenis benih hibrida memiliki kekurangan. Nanti akan kita bahas apa kekurangan dan kelebihan benih OP dan hibrida.

Tahap memilih benih cabai adalah tahap penentuan apakah hasil panen kita nanti akan maksimal atau tidak.

Tentu saja itu tidak dapat dikatakan mutlak, karena dalam prosesnya, hasil juga erat kaitannya dengan nutrisi dan perlakuan yang diberikan kepada tanaman.

Tetapi benih yang berkualitas tentu akan menghasilkan tanaman yang berkualitas pula.

Bagaimana dengan benih dari buah cabai yang dikeringkan?

Cara membuat benih cabe sendiri

Untuk skala rumahan maupun pertanian, tak jarang kita menanam cabai menggunakan benih buatan sendiri.

Apakah bisa?

Ya, bisa-bisa saja.

Namun ada satu hal yang patut diperhatikan, yaitu mengenai benih OP dan hibrida.

Salah satu kelebihan jenis benih OP adalah dapat digunakan terus-menerus.

Artinya, apabila benih tersebut menghasilkan buah, kita dapat menggunakan kembali biji dari buah tersebut untuk ditanam.

Kalau jenis benih hibrida, tidak bisa.

Maksudnya, ketika benih hibrida menghasilkan buah, biji dari buah tersebut adalah biji biasa, sehingga tidak dapat lagi digunakan sebagai benih unggul.

Kalau Anda tidak ingin repot membuat benih sendiri, Anda bisa gunakan benih kemasan yang banyak dijual di toko pertanian.

Setelah menentukan jenis benih dan varietas cabai untuk ditanam, sekarang saatnya kita pindah ke tahap berikutnya, yaitu penyemaian.


Penyemaian

teknik menyemai cabe

Bagi mereka yang sudah mengenal dunia budidaya, mungkin sudah paham dengan hal ini.

Tapi, ternyata tidak sedikit yang mempraktikkan menanam cabai dari benih langsung ke pot atau polybag.

Hal tersebut tidaklah salah…

Namun akan lebih baik jika penanaman dimulai dari proses penyemaian terlebih dahulu.

Kenapa?

Karena kita tidak tahu apakah semua benih yang kita tanam nanti akan menjadi tanaman yang sehat atau tidak.

Di sinilah fungsi penyemaian.

Gunanya adalah untuk memisahkan antara tanaman yang tumbuh cacat, kerdil, atau berpenyakit.

Tekniknya pun cukup mudah…

Pada dasarnya, teknik penyemaian benih cabai tidak jauh berbeda dengan benih tanaman lain pada umumnya.

Yang perlu Anda siapkan adalah:

  • Media persemaian (tanah, pupuk kompos)
  • Tempat penyemaian (polybag, tray)
  • Paranet atau plastik transparan
  • Karung goni (atau benda lain untuk menutupi benih)

1. Menyiapkan media persemaian

Untuk tempat penyemaian, silakan sesuaikan dengan metode yang ingin Anda gunakan.

Apakah Anda ingin menggunakan polybag ukuran kecil, tray, atau petakan tanah.

Saya tidak akan membahas mengenai metode hidroponik di sini, untuk metode hidroponik, silakan baca di sini: cara menanam cabe hidroponik.

Hal pertama yang harus dilakukan untuk menyemai benih cabai adalah menyiapkan tanah atau media persemaian.

Media persemaian terdiri atas campuran tanah halus dan pupuk kompos dengan perbandingan 1:1 yang telah dikukus dengan uap air panas selama empat jam.

Pengukusan tanah bertujuan untuk proses sterilisasi, agar tanah yang digunakan terbebas dari organisme pengganggu tanaman.

2. Tempat penyemaian

Kontainer atau wadah penyemaian yang akan saya gunakan adalah tray atau nampan persemaian.

Anda juga bisa menggunkan plastik es mambo, polybag kecil, bumbungan daun pisang, atau gelas air mineral bekas yang telah dilubangi.

Setelah tempat penyemaian siap, masukkan campuran tanah dan pupuk kompos secara merata.

Alternatif lainnya, Anda juga dapat membuat tempat penyemaian di atas petakan tanah.

Tempatkan media tanam di atas petakan tanah, buat ketebalan media tanam hingga sekitar 5 cm. Pastikan tekstur tanah cukup gembur (tidak terlalu padat), agar memudahkan proses pengakaran.

3. Menyemai benih

Sebelum disemai, benih cabai sebaiknya direndam terlebih dahulu dalam air hangat (suhu sekitar 50° C) atau larutan fungisida (1 ml per liter) selama 30 menit.

Lalu tiriskan benih dan benih telah siap disemai.

Tujuan perendaman ini adalah untuk mempercepat proses perkecambahan dan menghilangkan hama dan penyakit.

Setelah benih dan tempat penyemaian siap, masukkan benih ke dalam tanah yang telah dilubangi dengan kedalaman kurang lebih setengah ruas jari.

Jangan lupa untuk memberi jarak antar benih kurang lebih 3 cm.

Kemudian tutup lubang dengan tanah, agar benih cabai tidak dibawa kabur oleh hewan kecil seperti semut. Fungsi lainnya juga supaya benih tidak berpindah tempat ketika disiram.

Setelah semua benih tertutup tanah, siram atau semprot dengan air hingga tanah basah.

Tutup tempat penyemaian dengan menggunakan karung goni yang basah selama 4 hari. Hal ini dilakukan untuk menjaga kelembapan benih agar cepat sprout (berkecambah).

Pada hari keempat, umumnya, benih sudah mulai berkecambah dan karung goni dapat dibuka untuk kemudian dilakukan pemeliharaan.

Jangan lupa untuk melindungi bibit cabai dari paparan sinar matahari yang terlalu terik dan hujan.

Anda bisa menggunakan plastik bening atau paranet.

Pemasangan jaring atau paranet juga bertujuan untuk melindungi bibit cabai dari hama dan vektor penyakit yang berpotensi masuk ke area persemaian.

Setelah usia bibit cabai mencapai kurang lebih satu bulan atau 25-30 hari setelah semai (HSS), Anda bisa memindahkannya ke tempat yang lebih besar.

Sebagai indikasi lain, Anda juga dapat menghitung jumlah daun atau tingginya.

Apabila jumlah daun sudah mencapai 3-4 helai atau tinggi tanaman telah mencapai 10-15 cm, artinya tanaman sudah siap untuk dipindahkan ke tempat yang lebih besar.


Menentukan lokasi penanaman

di mana tempat menanam cabe yang cocok?

Setelah disemai hingga kondisi bibit siap dipindahkan, tahap berikutnya adalah memindahkan bibit dari tempat persemaian ke lahan yang lebih besar.

Bisa di lahan terbuka seperti pekarangan rumah atau bedengan, bisa juga di dalam polybag ukuran besar atau pot.

Di sini saya akan membahas keduanya secara lengkap.

1. Lahan pertanian / bedengan

Untuk menanam cabai di area besar seperti bedengan, ada beberapa tahap persiapan yang harus dilakukan seperti pengolahan tanah, pemberian kapur, dan pemasangan mulsa.

Pengolahan tanah adalah hal pertama yang harus dilakukan sebelum menanam di lahan besar. Caranya sebagai berikut:

  • Pertama, lakukan pembersihan lahan dari sisa tanaman dan sampah.
  • Kedua, lakukan penggemburan tanah dengan mencangkul sedalam kurang lebih 30 cm atau mentraktor dan biarkan selama 2 minggu.
  • Ketiga, buat bedengan dengan lebar 1-1,5 m, ketebalan 30 cm, dan jarak antar bedengan 30-50 cm. Panjang bedengan dapat menyesuaikan dengan ketersediaan lahan.

Setelah bedengan siap untuk ditanam, cek kondisi pH tanah.

Apabila pH tanah kurang dari 5,5, lakukan pemberian kapur tanah dengan kaptan atau dolomit sebanyak 1,5 ton/ha.

Setelah itu, berikan pupuk dasar untuk tanah. Pupuk dasar yang diberikan berupa pupuk kandang yang sudah matang. Setelah itu biarkan selama 1 minggu.

Kemudian 1 minggu setelah pemberian pupuk dasar, tebarkan pupuk NPK, lakukan penyiraman, lalu tutup bedengan dengan mulsa plastik perak.

Setelah mulsa terpasang, buat lubang tanam dengan alat pelubang berdiameter 10 cm.

Anda bisa membuat lubang secara bersilang atau berhadapan, dengan jarak antar lubang 50-60 cm.

2. Pot atau polybag

Secara keseluruhan, proses menanam cabai di dalam pot jauh lebih mudah dan praktis.

Pertama, pilih ukuran pot atau polybag yang cukup besar, seminimal-minimalnya 30 cm. Pilihlah pot yang berlubang untuk drainase, sehingga air dapat keluar dan tidak menyebabkan pembusukan.

Kedua, untuk media tanamnya, gunakan campuran tanah halus, pupuk kandang yang telah matang, dan arang sekam dengan perbandingan 1:1:1.

Ketiga, tambahkan sedikit pupuk NPK ke dalam campuran media tanam. Kira-kira dengan takaran 1 sdm untuk setiap pot.

Tapi sebelum memasukkan media tanam ke dalam pot, jangan lupa untuk melapisi bagian bawah pot dengan kerikil, sabut kelapa, atau pecahan batu bata. Supaya bagian bawahnya tetap berongga.

Fungsi dari rongga tersebut adalah untuk memperlancar proses drainase dan mencegah air tergenang di bagian bawah sebagai daerah untuk perakaran.


Memindahkan bibit

Sampai di sini, saya anggap bibit cabai sudah siap, tempat penanaman juga sudah siap.

Sekarang saatnya memindahkan bibit dari tempat penyemaian ke tempat penanaman.

Satu tips yang mungkin perlu Anda ketahui…

Proses pemindahan bibit sebaiknya dilakukan serentak pada pagi (di bawah jam 9), atau sore hari.

Karena tanaman cabai akan mudah stress ketika dipindahkan dalam keadaan panas terik.

Selain itu, pemindahan di waktu pagi atau sore hari juga membuat tanaman lebih mudah beradaptasi dengan tanah yang baru.

Baiklah, langsung saja kita masuk ke cara memindahkannya.

Pertama, lubangi tanah sedalam kurang lebih 7 cm.

Jika Anda menggunakan polybag sebagai tempat penyemaian, jangan lupa untuk membukanya terlebih dahulu. Ambil tanahnya saja.

Pindahkan bibit cabai beserta tanahnya dari tempat persemaian ke bedengan atau polybag/pot.

Ingat, satu lubang tanam hanya untuk satu bibit. Tanam bibit cabai hingga mencapai ke leher akar.

Kemudian tambahkan sedikit tanah dan agak dipadatkan.


Pemeliharaan dan perawatan

Setelah bibit dipindahkan ke lapangan atau ke polybag, lakukan pemeliharaan agar pertumbuhan tanaman tetap optimal.

Di dalam bab ini, saya akan mengkategorikan jenis pemeliharaan menjadi lima, yaitu: penyiraman, pemasangan ajir, pemberian pupuk, penyiangan, dan perempelan.

1. Penyiraman

Perawatan yang paling awal adalah dengan melakukan penyiraman pada bibit yang baru dipindahkan.

Penyiraman sebaiknya dilakukan secara rutin setiap hari atau seminimal-minimalnya 3 hari 1 kali, terlebih jika musim kemarau dan panas terik.

Ketika musim hujan, sistem pembuangan air (drainase) diatur agar aliran air dapat mengalir lancar dan akar cabai tidak tergenang terlalu lama.

Salah satu karakteristik tanaman cabai adalah tidak tahan kering dan tidak tahan genangan.

Sehingga, penyiraman dilakukan secukupnya saja; jangan berlebihan dan jangan kekurangan.

2. Pemasangan ajir

Ajir adalah tongkat yang biasanya terbuat dari bambu atau kayu yang ditancapkan di samping tanaman. Fungsinya untuk menopang tanaman agar tidak mudah roboh.

Sebaiknya ajir ditancapkan ketika tinggi tanaman telah mencapai 20 cm.

Tidak ada ukuran pasti seberapa tinggi atau lebar ajir. Kalau saya, biasanya membuat ajir dari bambu dengan tinggi 1-1,2 m dan lebar 5 cm.

Yang terpenting cukup kuat untuk menopang tanaman dari angin kencang dan hujan.

Pengikatan tanaman ke ajir menggunakan tali rafia dilakukan secara bertahap menyesuaikan tinggi tanaman.

Perlu dicatat bahwa ikatannya tidak boleh terlalu kencang karena dapat merusak batang tanaman.

3. Pemberian pupuk

Tanaman memerlukan unsur hara makro dan mikro agar dapat tumbuh optimal.

Unsur hara mikro bisa didapatkan dari pupuk kompos maupun pupuk kandang.

Sementara unsur hara makro didapatkan dari pupuk buatan seperti: ZA, urea, TSP, NPK, dsb.

Meskipun sebelum menanam cabai Anda sudah memberikan pupuk dasar pada media tanam, Anda masih harus memberikan pupuk susulan setelah tanam.

Jika untuk pupuk dasar kita menggunakan pupuk kompos, maka untuk pupuk susulan kita menggunakan pupuk buatan.

Dalam hal ini, saya menggunakan NPK.

Dosis rutin bulanan pupuk NPK adalah satu sdm untuk setiap tanaman/pot.

Tapi gimana kalau ingin menanam cabai dengan cara organik?

Alternatif pupuk yang baik untuk penanaman cabai organik adalah dengan menggunakan POC (Pupuk Organik Cair).

Penyemprotan atau pemberian pupuk cair dilakukan pada masa pertumbuhan daun dan buah.

Seiring dengan pemberian POC, tambahkan sedikit (1 sendok) pupuk kandang atau pupuk kompos pada saat tanaman akan berbuah.

4. Penyiangan

Tujuan dari penyiangan adalah menghilangkan gulma yang dijadikan inang bagi organisme pengganggu tanaman (OPT).

Tanaman cabai harus bebas dari gulma, seperti babadotan atau wedusan, karena gulma tersebut dapat menjadi inang dari penyakit virus kuning.

Waktu penyiangan dilakukan sesuai dengan kebutuhan di lapangan, setidak-tidaknya satu bulan sekali.

5. Perempelan/perompesan

Pada masa awal-awal pertumbuhan tanaman, tunas-tunas air banyak muncul pada ketiak daun.

Nah, perempelan atau perompesan adalah pemangkasan daun dan bunga yang telah rusak, serta tunas-tunas air yang baru muncul.

Kenapa kita perlu melakukannya?

  • Pertama, karena tunas yang baru muncul tidak produktif dan hanya ikut menyerap unsur hara dari tanah.
  • Kedua, apabila tunas tidak dipangkas, tanaman akan cenderung tumbuh ke samping, padahal batang tanaman belum terlalu kuat untuk menopang.
  • Ketiga, perempelan bunga pertama pada cabang utama berguna untuk menunda proses pembentukan bunga dan buah karena kondisi tanaman belum kuat.

Perempelan tunas-tunas air dilakukan pada saat tanaman berumur 75-80 hari setelah tanam (HST) untuk dataran rendah, dan 90 hari untuk dataran tinggi.


Memanen cabai

Masa panen tanaman cabai berbeda-beda, tergantung pada waktu kematangan fisiologis sesuai varietas yang digunakan dan pemeliharaannya.

1. Memetik cabai

Umumnya, masa panen dapat dilakukan pada saat tanaman berumur 75-85 HST, setiap 5-7 hari.

Ada beberapa tips mendasar dalam memanen cabai:

  • Panen sebaiknya dilakukan pada saat pagi hari dan cuaca cerah.
  • Panen dapat dilakukan pada saat buah cabai telah matang penuh.
  • Panen hijau dapat dilakukan 1 bulan sebelum panen merah, atau pada saat buah telah mengeras.
  • Petik buah beserta tangkainya secara hati-hati.
  • Jika Anda menggunakan pestisida, hentikan penggunaannya ketika menjelang panen.

2. Menyimpan cabai

Buah yang telah dipanen disimpan di dalam wadah yang kering dan bersih.

Untuk panen dalam jumlah besar, Anda bisa menggunakan keranjang bambu/plastik yang berventilasi. Hindari menggunakan karung.

Buah yang telah dipetik kemudian disortir untuk memisahkan buah yang baik dan sehat dengan buah yang rusak.

Jika Anda menggunakan pestisida, cuci buah dengan Chlorine (cairan untuk mencuci buah dan sayuran) dengan tingkat konsentrasi 75-100 ppm.

Demikianlah cara menanam cabai dari awal hingga akhir. Panduan ini dapat Anda gunakan untuk skala kecil maupun besar.

Leave a Comment