Budidaya Ikan Nila

Ikan nila merupakan salah satu ikan air tawar yang paling digemari masyarakat Indonesia. Selain karena harganya yang relatif terjangkau, pembudidayaannya pun terbilang mudah.

Ikan nila sangat mudah berkembang biak karena mempunyai kemampuan adaptasi yang baik. Suhu optimal bagi pertumbuhan ikan nila berkisar 25-30 derajat celcius dengan pH air 7-8.

Di samping itu, ikan ini juga termasuk omnivora. Pakan alaminya adalah plankton, tumbuhan air, serta organisme dan mikroorganisme lain di dalam kolam. Sedangkan untuk budidaya, kita bisa gunakan pelet dengan kadar protein sekitar 25%.

Adapun beberapa faktor yang harus diperhatikan sebelum memulai budidaya ikan nila antara lain adalah pemilihan benih, persiapan kolam, pemberian pakan, hingga penanganan penyakit.

Budidaya ikan nila secara sederhana dapat dibagi ke dalam 3 tahap. Tahap yang pertama yaitu pembenihan, yang kedua pendederan, dan yang ketiga adalah pembesaran.

1. Pembenihan Ikan Nila

Pada tahap pembenihan, hal yang pertama kali harus kita lakukan adalah melakukan seleksi induk. Yaitu memilih induk jantan dan betina yang sudah siap untuk breeding.

Kita dapat membedakan ikan nila jantan dan betina dengan mudah dari 2 ciri, yakni dagu dan bentuk alat kelamin.

  • Ikan nila betina memiliki dagu yang lebih lebar dibanding ikan nila jantan.
  • Alat kelamin pada ikan nila betina membulat, sementara pada ikan jantan sedikit menonjol.

Pemilihan benih merupakan hal yang penting untuk menentukan hasil budidaya ikan nila. Pilihlah benih ikan nila jantan, karena hasil yang didapatkan akan maksimal. Karena pertumbuhan ikan nila jantan 40% lebih cepat daripada ikan nila betina.

Budidaya ikan nila secara monosex atau berkelamin sama lebih produktif dibanding campuran. Karena ikan ini mempunyai sifat gampang memijah (melakukan perkawinan). Karena bila dicampur, ikan akan memijah dan pertumbuhan bobot ikan akan sedikit terhambat.

Persiapan kolam

Kolam yang kita siapkan dapat berupa kolam tanah, kolam tembok, kolam terpal, ataupun kolam apung (keramba).

Pada pembahasan kali ini, saya akan menggunakan contoh kolam tanah, karena ini adalah jenis kolam yang paling umum digunakan.

Kolam tanah juga bisa menjadi tempat tumbuh berbagai tumbuhan dan organisme lain yang bermanfaat sebagai pakan ikan nila, sehingga bisa mengurangi biaya pembelian pelet.

Langkah-langkah persiapan pengolahan kolam tanah sebagai berikut:

  • Langkah pertama adalah pengeringan dasar kolam. Kolam dikeringkan dengan cara dijemur di bawah terik matahari. Penjemuran berlangsung selama 3-7 hari, tergantung pada kondisi cuaca.
  • Penjemuran sudah cukup bila permukaan tanah terlihat retak-retak, namun jangan sampai tanahnya terlalu keras (membatu). Ciri-cirinya yaitu bila tanah diinjak, ia masih meninggalkan jejak kaki.
  • Kemudian, permukaan tanah dibajak sedalam 10 cm. Kotoran-kotoran yang ada di dasar kolam dibersihkan, bersihkan juga lumpur hitam yang berbau busuk.
  • Kolam yang sebelumnya pernah digunakan biasanya memiliki tingkat keasaman yang tinggi (pH rendah). Saran saya, cek dulu kondisi pH tanah. Apabila di bawah 6, sebaiknya lakukan pengapuran dengan kapur jenis dolomit. Kondisi pH yang optimal untuk budidaya nila pada kisaran 7-8.
  • Dosis pengapuran disesuaikan dengan keasaman tanah. Untuk pH tanah 6, beri kapur dolomit sebanyak 500 kg/ha. Untuk pH 5-6, gunakan sebanyak 500-1500 kg/ha. Untuk pH tanah 4-5, gunakan sebanyak 1-3 ton/ha. Usahakan kapur bisa masuk ke dalam permukaan tanah kurang-lebih sedalam 10 cm. Lalu diamkan selama 2-3 hari.
  • Setelah dilakukan penetralan pH, tahap selanjutnya adalah pemupukan. Pupuk yang digunakan adalah pupuk organik sebagai pupuk dasar. Kegunaan dari pemupukan adalah untuk mengembalikan kesuburan tanah. Pupuk disebar secara merata pada permukaan kolam. Anda juga bisa menambahkan pupuk kimia berupa urea atau probiotik.
  • Tujuannya untuk memberikan nutrisi bagi hewan dan tumbuhan renik yang ada di lingkungan kolam. Nantinya, ini dapat menjadi bahan pakan alami bagi ikan nila.
  • Langkah selanjutnya, alirkan kolam dengan air. Pengairan ini dilalakukan secara bertahap.
  • Pertama, alirkan air setinggi 10-20 cm saja. Tujuannya adalah agar sinar matahari dapat menembus dasar kolam dengan sempurna.
  • Biarkan selama 3-5 hari untuk memberikan kesempatan pada organisme air lainnya tumbuh.
  • Setelah 5 hari, isi kolam hingga ketinggian air mencapai 60-75 cm.

Langkah selanjutnya adalah proses penebaran induk betina dan jantan. Perbandingannya 1 jantan banding 5-10 betina.

Proses selanjutnya adalah pemijahan alami. Pada proses ini, lama pemeliharaan awal sekitar 30 hari. Setelah 30 hari, kita dapat memanen larva atau burayak. Kemudian panen seterusnya dapat kita lakukan secara berkala setiap 12-15 hari sekali.

Setelah larva dipanen, kita dapat melajutkan ke tahap selanjutnya yaitu pendederan.

2. Pendederan

Pada tahap pendederan, siapkan kolam tersendiri untuk memelihara burayak / larva ikan nila. Luas kolam pendederan dapat disesuaikan dengan lahan yang tersedia.

Kemudian, isi kolam dengan larva ikan nila dengan perbandingan kurang-lebih sekitar 500-1000 ekor larva ikan nila per meter persegi.

Nah, larva tersebut akan dipelihara dalam kolam pendederan selama 21 hari sampai satu bulan.

Pemberian pakan burayak

Kita dapat memberikan pakan berupa campuran yang terdiri dari dedak, tepung ikan, dan tidak lupa kita beri campuran probiotik.

Pakan tersebut kita campurkan di dalam ember, dan kemudian kita tebar ke sepanjang kolam sebanyak dua kali sehari.

3. Pembesaran dan Pemasaran

Setelah proses pendederan, kita dapat langsung menjual benih ikan tersebut ataupun membesarkannya untuk dapat dipanen sendiri.

Ada tiga hal yang paling penting untuk diperhatikan, yaitu pengelolaan air, pemberian pakan, dan pengendalian hama dan penyakit.

Pengelolaan air

Agar hasil budidaya ikan nila maksimal, kualitas air kolam harus dipantau secara rutin. Premeter penentu kualitas air adalah kandungan oksigen dan pH air. Bila kandungan oksigen dalam kolam menurun, perderas sirkulasi air dengan menambah debit air. Bila kolam sudah mengandung banyak NH3 dan H2S yang ditandai bau busuk, segera lakukan penggantian air.

Pemberian Pakan

Biaya pakan merupakan komponen biaya yang paling besar dalam budidaya ikan nila. Berikan pakan berupa pelet dengan kadar protein 20-30%. Pemberian pakan bisa dilakukan pada pagi dan sore hari.

Setiap dua minggu sekali, Anda bisa mengambil sampel ikan nila secara acak untuk ditimbang bobotnya. Dengan begitu, Anda bisa sesuaikan jumlah pakan yang harus diberikan.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Pada situasi normal, penyakit ikan nilai tidak banyak dan seharusnya tidak mengkhawatirkan.

Namun, jika budidaya ikan nila sudah dilakukan dalam skala yang lebih besar, risiko serangan hama dan vektor pembawa penyakit tetap harus diwaspadai. Apalagi penyebaran penyakit di kolam ikan terbilang sangat cepat menular.

Untuk pencegahan, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan:

  • Pertama, seperti yang sudah dibahas di tahap persiapan, lakukan pengeringan, pengapuran, dan pemupukan.
  • Kedua, pasang filter berupa jaring, kain, atau apapun pada aliran air masuk ke kolam untuk mencegah hama seperti kumbang air / ucrit masuk ke dalam kolam.
  • Ketiga, lakukan pembasmian hama secara rutin. Anda bisa menggunakan seser untuk menangkap hama yang ada di dalam kolam seperti kumbang air, kodok, ucrit, bebeasan, dan predator ikan lainnya untuk dibasmi.

    Anda juga bisa melakukan pembasmian hama secara alami, yaitu dengan memasukkan predator alami hama tersebut.

  • Keempat, jangan memberi pakan terlalu banyak, karena sisa-sisa pakan yang jatuh ke dasar kolam dapat membuat hama betah dan berkembang di dalam kolam.

4. Pemanenan Ikan Nila

Untuk kebutuhan pasar domestik, ukuran ikan nila yang dibutuhkan umumnya berkisar antara 300-500 gram per ekornya.

Sementara, waktu yang diperlukan dalam budidaya ikan nila mulai dari ukuran 10-20 gram per ekor (benih) hingga ukuran 300-500 gram per ekor (siap panen) adalah sekitar 4-6 bulan.

5. Modal yang dibutuhkan

Modal yang dibutuhkan untuk budidaya ikan nila skala kecil, kita dapat menggunakan kolam-kolam terpal dengan modal kira-kira 5-10 juta rupiah dengan profit 3-4 juta rupiah.

Sementara untuk usaha skala besar, modal yang dibutuhkan minimal di atas 100 juta rupiah, dengan kisaran profit antara 10-15 juta rupiah per bulan.

Saya seorang praktisi sekaligus hobiis di bidang pertanian dan peternakan. Menyukai aquascape, fotografi, dan blogging. Semoga tulisan saya dapat berguna bagi para pembaca. :)

Tinggalkan komentar